Friday, December 30, 2005
9:49 PM
A Book : _Line04
Snow Bouquet
The bouquet, the snow, and everything inside, will remain eternal.
"Aku memiliki sebuah karangan salju,untuk orang yang kusayangi yang sangat mencintai salju.
Seperti karangan bunga kaca berwarna biru.
Dan berkilau di bawah cahaya matahari.
Pada saat itu di atas tempat tidurnya ia menoleh ke arahku,
'rupanya musim dingin ini tanpa salju..'.
Aku tidak pernah membawakannya sesuatu yang indah,
sesuatu yang bisa mencerahkan wajahnya.
Jadi kupikir karangan salju ini ide yang bagus.
Dan aku membawanya, dengan hati2, menuju kamarnya.
Ia terperangah dan tangannya seperti ingin merebut karangan itu.
Untuk sejenak, kurasa aku benar2 membuat suatu kesalahan.
Aku membawakannya karangan salju,
karangan yang tidak bisa ia sentuh.
Karangan ini akan mencair di tangannya,
dan hal yang indah ini akan menghilang selamanya.
Itu adalah keputusan yang paling sulit dalam hidupku.
Antara menyerahkan karangan ini kepadanya dan mencairkannya.
Atau hanya memandangnya dan memegang erat karangan itu.
Beberapa saat aku hanya terpaku melihatnya.
Kemudian ia menatapku dengan heran, kemudian terkejut, dan diam.
Kurasa ia telah memikirkan hal yang sama denganku,
dan ia tertunduk lesu sambil menghela napas.
'hadiah seindah itu memang untuk dipajang..'
Jadi aku mengambil sebuah vas dan es dan menata karangan itu,
kuletakkan di meja samping tempat tidurnya.
Ia memandang karangan barunya dengan resah,
membuat hatiku miris melihatnya.
Apa memang aku telah melakukan hal yang salah?
Lalu ia memandangku, dan tersenyum dan mengatakan tidak mengapa.
Ia sangat senang bahwa karangan itu sekarang menghias kamarnya,
walaupun ia hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuh.
S
etelah aku pulang aku merenungkan yang telah kulakukan.
Aku merasa bersalah, namun juga merasa benar.
Bila ia menyentuhnya maka karangan itu akan mencair,
dan ia akan sedih karena kehilangan hadiahnya.
Untuk beberapa lama aku tidak mengunjunginya lagi.
Cukup sulit bagiku untuk melihat ekspresinya,
merasakan kegelisahannya berada di sebelah karangan salju.
Sampai suatu hari teleponku berdering,
walau merasa sedikit takut aku mengangkatnya.
Dan lawan bicaraku benar2 mengoceh dengan cepat,
intinya, temanku itu ada di tempat tidurnya dan sekarat.
Aku bergegas menutup telepon dan melesat keluar,
tanpa berpikir tentang apapun kakiku otomatis berlari ke rumahnya.
Ketika aku membuka pintu aku melihatnya dikelilingi orang2.
Bola matanya sedikit bergerak dan melirik ke arahku,
kemudian ia tersenyum dan memanggil namaku.
Rasanya langit mau jatuh ketika semua orang melihatku,
tapi mereka membuka jalan dan aku bisa melihatnya dengan jelas.
Di antara mesin2 dan selang2, sesuatu berkilau dan menetes,
tetesan dari karangan salju yang sedang dipeluknya,
kedua tangannya menggenggam karangan itu kuat2 dan membiru.
Aku berada di dekatnya dan bisa sedikit merasakan,
karangan itu sangat dingin dan bentuknya sudah berubah,
walau aku masih melihat bentuk daun dan sedikit kelopak.
Seorang yang berpakaian suster mendekatiku dan berbisik,
'karena memegang karangan itu suhu badannya menurun drastis,
ia bersikeras tidak melepasnya dan itu sangat membahayakannya!'.
Kata2 itu bergema di pikiranku dan mataku terpaku,
dalam senyumnya yang makin melemah,
dan dalam matanya yang menyorot lembut ke arahku,
dan pada genggaman tangannya yang biru dan bergetar.
Rupanya dosaku bukan hanya membawa karangan itu kepadanya,
menyakitinya karena ia tidak bisa memegangnya.
Dosaku juga bahwa ia pasti akan memegangnya,
dan akibatnya lebih buruk dari yang bisa ditanggung siapapun.
Aku tidak bisa bicara apa2 tapi aku menangis,
tiba2 saja ia melepas sebelah tangannya dan memegang wajahku.
'ah.. ternyata air matamu sangat hangat ya..'
Tidak akan pernah kulupakan senyum itu yang hangat,
menghangatkan sentuhannya yang sebeku es,
menghidupkan hatinya yang lama tertidur.
Aku juga tidak akan melupakan betapa ia semakin melemah,
dan matanya seidikit terpejam namun tetap tersenyum,
dan aku dengan panik memanggil2 namanya,
tanganku menggenggam tangannya yang terasa amat kaku.
Dalam napasnya yang berat aku mendengar suaranya yang lirih.
'semoga tahun depan salju turun..,
dan kau akan membawa karangan itu lagi untukku tanpa khawatir..'.
Bibirnya terbuka untuk yang terakhir kalinya,
napasnya juga terhembus untuk yang terakhir kalinya,
namun tangannya akan menggenggam karangan itu dan tanganku untuk selamanya,
dan di luar salju turun untuk yang pertama kalinya..
Turun atau tidak, karangan salju itu miliknya,
mekar dan mencair bersama, dan menunggu musim dingin selanjutnya,
saat itu aku akan membawa dua karangan salju,
satu untuk mengingatkannya padaku,
dan satu lagi untuk mengingatkanku padanya.
Dua orang yang tersenyum dalam salju,
dan sebuah karangan salju yang akan tetap abadi."
A Snow Bouquet may melt and gone, but its beauty and spirit will last till next
winter come.
-The Snows-
*the title is taken from a manga i read (plagiat bgt =p)
'-ti.at.oscha-`
'-Board-'
'-Other-`
'-Files-`
December 2004
October 2005
November 2005
December 2005
January 2006
April 2006
May 2006
September 2006
October 2006
June 2009
July 2009
April 2011
November 2011
'-Back-`
altered